Iblis Yang Di Sebut Ketidakpedulian

"APAKAH KAU PIKIR SEMUANYA AKAN BERUBAH?"

Sebuah rasa khawatir muncul dalam benakku. Berharap bahwa semuanya akan berjalan sesuai keinginanku. Tapi apakah semuanya akan baik sedari dulu ?

"Tidak".

Jika saja aku lebih berhati-hati mungkin semuanya akan berbeda. Tapi lihat, apa yang telah ku lakukan. Semuanya tidak seperti apa yang ku bayangkan. Ingin kembali pada saat semua ini tidak pernah terjadi.

"Karena kamu tidak ingin merasakan sedih. Banyak orang yang ingin menendangmu dari sana."

Iya. Aku tahu apa yang membuat ku seperti ini. Tapi tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Semuanya terjadi begitu saja. Tidak ada lagi yang dapat menerima ku karena ketidakpedulianku.

Aku memejamkan mataku. Tapi kenapa hanya kegelapan yang dapat ku lihat. Aku meneteskan air mata. Padahal, selalu ku bayangkan wajahmu yang elok. Dirimu adalah alasan mengapa aku masih ada disini.

:: Chapter 1 : Permata itu adalah Amethyst ::

Pagi hari, lebih tepatnya di saat mentari telah menyapa semua binatang dan tumbuhan. Burung burung berkicau merdu saling menyapa satu sama lainnya. Tumbuh-tumbuhan tak sabar menanti hangatnya mentari. Aku masih tertidur di ranjang ku dengan posisi tubuh yang tidak karuan.

Freya mencoba membangunkan ku dengan mengelus tubuhnya pada selimut yang menutupi tubuhku. Walaupun belum terbangun sepenuhnya, tetapi aku dapat membuka mata ku karenanya. Dengan melihat rambut lebat yang dimiliki Freya, sedikit memutar kembali kenangan lama. Yaitu disaat aku bertemu dengannya. Pada saat itu aku sedang melakukan perjalanan ke Bukit Amadis. Freya saat itu sendiri dan mengeong kesana kemari seperti kehilangan sesuatu. Lalu disaat aku mendatanginya, dia segera menghampiriku dan mengeluskan tubuhnya seperti yang dia lakukan pagi ini.

Jika dipikir, setiap manusia pasti memiliki kenangan manis yang tidak ingin dilupakan. Namun, beda halnya dengan kenangan buruk. Siapa orang di dunia ini yang ingin mengingat kenangan buruk yang dialaminya. Semuanya pasti ingin menghilangkan atau melupakan kenangan terburuk yang mereka alami. Tapi kenapa, padahal kenangan baik maupun buruk merupakan satu bentuk sejati dari sebuah kenangan itu sendiri.

Seseorang mengetuk pintu rumahku. Tidak terdengar jelas, namun aku tahu itu adalah Mocha sang Penakluk Wanita. Jangan ditanya jumlah wanita yang sudah ia tiduri. Dia merupakan salah satu manusia yang dapat minum 2 drum minuman anggur di Kerajaan Kalazach ini. Jika ditanya soal kemampuannya di medan perang, Aku dapat menjamin kalau dia dapat sejajar dengan para komandan batalyon perang. Posisi dia saat ini adalah garis depan pertahanan kerajaan.

"Hey Gil, keluar lah. Mau sampai kapan kau akan ada di gubuk tua ini bersama kucing berbulu milikmu itu?" Mocha berteriak dibalik pintu.

"Sampai aku bisa melakukan apapun sesuai keinginanku" balasku sambil menghampiri pintu untuk membukanya. Dari balik daun pintu yang terbuka, terlihat tubuh besar dengan pakaian pelindung lengkap.

"Loh, ada apa denganmu ? Masih pagi tapi sudah mengenakan pakaian lengkap seperti ini ?" tamabhku sambil mengucek mataku karena silaunya cahaya mentari dibalik tubuh besar Mocha.

"Hei bodoh, sudah jam berapa ini. Matahari sudah naik seperempat putaran sekarang. Pintu pertahanan barat sedang mengalami kekacauan." tegas Mocha sambil menggenggam bahuku membuatku terkejut.

"Eh !? Tenang dulu. Jika ada kekacuan di pintu pertahanan barat, kau tidak seharusnya ke gubukku yang dekat dengan pintu timur dong." timpalku sambil berusaha melepas cengkraman tangan Mocha di bahuku.

"Tentu tidak, kecuali ada hal yang perlu kau ketahui, Gil." tegas Mocha sekali lagi.

Aku pun terdiam. Mocha pun melepas cengkramannya dan terdiam karena melihatku terdiam. Aku tahu kalau dia memang sangat lantang saat berbicara. Tapi kali ini sepertinya tidak seperti biasanya. Aku pun terduduk di kursi yang berada di dekat ku.

Freya menghampiriku dan duduk di pangkuanku. Aku pun mengelus tubuhnya yang lembut. Sudah lama semenjak Perang Vath hari itu. Freya bertarung dengan gagah bersamaku di barisan depan. Mungkin, menyadari kalau Freya yang seekor kucing tergabung dalam pasukan perang terdengar gila. Tapi Freya bisa seperti itu karena pada dasarnya ia bukan seekor kucing peliharaan.

"Jangan membuat ku menunggu, Jendral Sherman menunggu ku untuk berjaga di pos." ucap Mocha memecahkan keheningan ku.

"T-Tunggu sebentar, berikan aku waktu untuk bersiap." tutur ku.

Aku pun memakai pakaian harianku yang seperti biasanya. Ketika ingin pergi keluar, biasanya aku tidak membawa Freya bersamaku, namun untuk kali ini sepertinya aku perlu membawanya. Mocha telah menunggu di depan sambil menunggangi kudanya.

"Ayo cepat!!" teriak Mocha.

"Sebentar lagi" jawabku.

"Freya, sepertinya perjalanan kita akan cukup panjang. Tolong tetap selalu ada di sisiku." pesan ku kepada Freya sambil meletakkan freya di bahuku. Aku pun keluar dari gubukku dan menutup pintunya dengan keras. Sesaat aku menghampiri kuda perang si Mocha, aku memalingkan pandanganku pada gubuk tua itu. Ini akan menjadi jalan penuh luka dan rasa sakit pikir ku. Aku mengucapkan selamat tinggal kepada gubuk tersebut.

:: Bersambung ::

Komentar