Azawa Torio - Act 1 : Agni, Sang Dewa Api
Mentari pagi menyapa orang-orang di desa Dusun Tiga yang saling menyapa. Burung-burung yang saling berkicau satu sama lainnya. Jalanan yang dipenuhi pedagang pelintas antar negeri. Desa Dusun Tiga ramai karena letaknya di antara Kerajaan Balong Kidul dan Desa pusat pertanian Ati Ampela. Berjalanlah seorang pendekar bernama Zaki di antara kerumunan orang di desa ini.
Terlepas dari urusan pendekarnya, Zaki tanpa pedangnya hanya ingin pergi ke saung di pusat desa Dusun Tiga. Ia sebenarnya ada janji untuk bertemu dengan Erika teman dekatnya sejak kecil. Tetapi, selama perjalanan, Zaki tidak bisa menyembunyikan senyuman kecilnya. Hal itu karena ia ada niat untuk menyampaikan perasaan cintanya kepada Erika. Kemudian Zaki berpikir untuk memberikan bunga kepada Erika nanti. Jadi Zaki pun mampir sebentar di pedagang Bunga
Ketika ingin menghampiri pedagang Bunga tersebut, terdengar sapaan dari suara yang tidak asing. Ternyata itu adalah suara Arji. Ia adalah teman satu perguruan pedangnya dahulu. Ia adalah seorang dengan penampilan yang cukup rapi dan tampan seperti pangeran. Arji menyapa Zaki dengan semangatnya.
Arji : “Oi oi, Zaki, aku lihat dari kejauhan tadi, ada apa denganmu yang senyum-senyum begitu?”
Zaki : “Oh Arji, haha, tidak ada apa-apa kok, hanya pikiran yang mengawan saja”
Arji : “Mau kemana nih pagi-pagi? Tidak mungkin kan kamu sepagi ini sudah bangun”
Zaki : “Haha, aku ada janjian ketemu sama Erika di saung”
Arji : “Ehh ada urusan apa nih?”
Zaki : “Tidak ada apa-apa, hanya ingin bertemu dan mengobrol saja”
Arji : “Oh begitu. Eh, ngomong ngomong, aku minta uang dong buat makan”
Mendengar hal itu, Zaki menduga bahwa nanti uangnya pasti akan habis dipakai untuk mabuk mabukan. Tidak ada pikiran lain selain menolak permintaan itu.
Zaki : “Loh, sepagi ini kok sudah minta uang saja. Tidak. Aku tidak akan memberikanmu”
Arji : “Ayolah Zaki, untuk makan masa kamu tidak merasa kasihan kepada ku”
Zaki : “Aku tahu pasti akan kamu gunakan untuk mabuk mabukan di bar”
Arji : “Cih, ayolah, masa dengan teman pelit seperti itu”
Zaki : “Tidak, aku tidak akan memberikanmu sepeserpun”
Arji : “Haha, baiklah kalau begitu, aku akan berusaha agar kamu mau memberiku uang”
Kemudian Arji pergi dengan senyuman anehnya. Melihat hal itu, Zaki mengerutkan wajah sambil terheran-heran. Memilih untuk tidak memperdulikannya, ia pun membeli bunga.
Disisi lain, Arji memikirkan cara untuk bisa membuat Zaki mau memberikannya uang. Dibalik penampilannya yang bagaikan seorang pangeran, Arji ternyata memiliki sifat rakus dan jahat. Ia memikirkan segala cara yang mungkin untuk bisa memaksa Zaki memberikan uangnya. Hingga terbetiklah ide untuk menculik Erika dan menjadikannya sebagai sandera. Arji berpikir itu adalah ide yang sangat bagus dan pasti akan membuat Zaki mau tidak mau akan memberikannya uang. Pergilah ia dengan kuda pacunya untuk mencari Erika di seluruh penjuru desa.
Kembali ke Zaki, ia akhirnya sampai di saung yang dijadikan tempat pertemuan. Saung itu ada di tengah hamparan sawah yang hijau nan luas. Membuat tempat ini terasa sejuk dan lega. Zaki duduk di pinggir saung sambil memegang seikat bunga dan menunggu kehadiran Erika.
Sudah lebih dari 3 jam menunggu, sosok Erika tidak terlihat sampai sekarang. Rasa gelisah dan khawatir mulai menyelimuti Zaki. Berusaha berpikir positif untuk menenangkan pikirannya, Zaki memilih untuk berkhayal tentang bagaimana dia akan mengungkapkan perasaannya untuk menghilangkan kecemasannya ini.
Hingga beberapa saat kemudian, dari kejauhan ada seseorang yang berlari terburu-buru menuju Zaki. Ketika ia mendekat, Zaki mengenalnya, ia adalah adiknya Erika.
Zaki : “Loh, Adi, ada apa kesini?”
Adi : dengan nafas terengah-engah “Fwuhh, Itu mas, kak Ika diculik sama mas Arji”
Zaki : “APA!!?” dengan terkejut, “Bagaimana bisa?”
Adi : “Tadi kakak sama Adi lagi menimba air di sumur, lalu tiba-tiba mas Arji datang dan menculiknya. Adi dilepaskan oleh dia untuk sampaikan pesan ini ke mas Zaki”
Zaki : “Baik, aku mendengarkan”
Adi : dengan sedikit menahan rasa takut “A-Anu, m-mas Zaki harus mau kasih mas Arji uang, kalau tidak kak Ika nanti mau dijual sebagai budak di Kerajaan Dagasakarsa”
Zaki : “APA!?”
Zaki : “Apa kamu tahu dimana Erika dibawa?”
Adi : “A-Adi tidak tahu, mas”
Zaki berpikir keras dan memikirkan berbagai cara untuk menyelamatkan Erika. Disamping itu, Adi tidak bisa menahan rasa takutnya dan pecah mendati tangisan karena ketakutan akan kehilangan kakaknya. Zaki pun berusaha menenangkan Adi dan setelah itu bergegas pergi untuk menyelamatkan Erika.
Sore hari di gubuk kecil di ujung desa Dusun Tiga, tempat yang jarang dilalui orang membuat tempat ini sepi. Pepohonan yang menjulang tinggi berdiri di area yang cukup luas membuat pemandangan disini seperti sebuah hutan. Terdapatlah Arji dan Erika yang kedua tangannya di balik punggungnya dan diikat dengan tali.
Arji : “Kamu adalah orang yang sangat disayangi Zaki, dengan ini pasti Zaki akan tunduk padaku dan memberikan uangnya padaku”
Erika : “Pengecut. Lihat saja, Zaki pasti akan menyelamatkanku dan menghajarmu sampai kau tidak bisa berkata apa-apa”
Arji : “Hoho, berani sekali ya mulutmu berbicara seperti itu, jika Zaki akan menghajar ku maka aku akan lebih dahulu menghajar nya, lalu kau akan aku jual dan mendapatkan uang dari itu, Hahaha”
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar gubuk. Mendengar hal itu, Arji pun mengambil pedangnya dan pelan-pelan menghampiri pintu gubuk tersebut. Kemudian dia membukanya sedikit dengan maksud untuk mengintip sedikit dari pintu. Melihat tidak ada siapa-siapa, Arji pun membuka lebar pintu itu dan pergi keluar untuk mengecek keadaan di luar. Ia menyapu pandangan di sekitarnya namun tidak melihat siapapun.
Arji : “Yang benar saja, tidak ada siapapun disi-”
Belum selesai berbicara, tiba-tiba terlihat Zaki berdiri di depan gubuk dengan membawa pedang di pinggangnya. Arji sedikit gemetar melihat wajah Zaki yang terlihat sangat marah itu. Tubuh Arji merasakan hawa pembunuh yang sangat mengerikan hingga membuat Arji merinding. Arji mundur ke pintu gubuk.
Arji : “E-Eh Zaki, hahaha, kau tidak bisa seenaknya datang dan menghajarku begitu saja ya kan. Ingat! aku punya Erika disini, jika kau macam-macam aku akan-”
Ketika Arji berniat masuk untuk membawa Erika dan mengancam Zaki, ia temukan bahwa gubuk itu kosong. Heran dengan hal itu, ia kembali lagi keluar gubuk. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Erika ada di luar dan terlepas dari ikatannya
Arji : “Sialan kau, Wani. Ternyata kalian bekerja sama ya”
Wani : “Maaf jika aku berkata kasar, Arji. Perbuatanmu tidak bisa dimaafkan dan tempatmu pantasnya di neraka”
Arji : “Heh, dasar manusia mata empat, aku akan meng-”
Sebuah pukulan mendarat tepat di perut Arji. Zaki memukul Arji dari jarak yang cukup jauh tanpa ada siapapun yang menyadarinya.
Arji : “UUKKHHH.. UAGGHH”
Wajah Arji terlihat kaget dan kesakitan karena pukulan berat yang menghantam perutnya. Arji terpental hingga masuk ke dalam gubuk itu.
Arji : di dalam hati “Aku tidak melihat dia berlari namun tiba-tiba wajahnya sudah di depan mataku dan tanpa ku sadar dia sudah memukul ku”
Dengan mengeluarkan pedang dari sarung pedangnya, Zaki berteriak dari luar gubuk “Duel lah dengan ku! Jika kau menang, aku akan memberikan uang berapapun yang kau mau”
Arji : “Heh, seharusnya kau katakan itu sebelum memukul ku, brengsek”
Zaki masih berdiri di luar gubuk. Hingga beberapa saat kemudian Arji dengan cepat keluar dengan melompat dan menyerang Zaki dari udara dengan pedangnya. Zaki menghindar ke sisi kanan dan memberikan pukulan tambahan tepat di wajah Arji hingga ia terpental sekali lagi.
Zaki : “Wani, antarkan Erika kembali ke rumah. Erika, kita atur ulang ketemuan kita ya”
Wani : “Baiklah”
Erika : “Zaki, maafkan aku, andai aku bisa menjaga diriku, pasti-”
Zaki : “Tidak apa-apa, pergilah”
Wani membawa Erika dengan kuda pacunya dan segera pergi dari lokasi. Kini hanya tersisa Arji dan Zaki.
Zaki : “Sekarang kita dapat bertarung dengan leluasa, aku akan menghajarmu sepuasku” ancam Zaki.
Arji : “Hah, akhirnya kau menunjukkan sifat aslimu Zaki. Titisan dewa api Agni”
Zaki Guntur atau juga dikenal dengan sebutan Zaki Si Pendekar Sangar dari Ciledok adalah seorang pendekar yang juga dikenal sebagai titisan Agni Sang Dewa Api. Sebutan ini melekat pada dirinya ketika masa peperangan 3 Kerajaan besar 6 tahun yang lalu. Pada saat itu Zaki berumur 18 tahun dan memimpin pasukan untuk mempertahan kan kerajaan kecil bernama Ciledok yang sekarang dikuasai oleh Kerajaan Dagasakarsa.
Ibu kota kerajaan Ciledok hancur dan terbakar. Zaki yang gagal mempertahankan pusat kerajaan dan di ambang kematian. Tiba-tiba bangkit dan membantai 300 pasukan Dagasakarsa dengan membabi buta sendirian. Pasukan Dagasakarsa yang selamat mengatakan bahwa ia tidak melihat manusia melainkan monster api. Dengan kekuatan yang tidak bisa dihadang dengan 300 pasukan, orang-orang menganggapnya kekuatannya setara dewa. Karena itulah sebutan titisan Agni Sang Dewa Api melekat pada Zaki.
Zaki : “Jika kau punya waktu, gunakanlah untuk bersiap karena aku akan menyerangmu”
Arji : “Heh, baiklah, akan aku kalahkan kau dengan cara apapun”
Pertarungan sengit pun terjadi, suara dentingan kedua pedang yang bergema melewati pepohonan di sekitar. Mereka berdua bertarung dengan serius dan agresif. Terlihat wajah Zaki semakin merah padam dan serangan yang semakin cepat membuat Arji kewalahan. Namun Arji juga tidak menyerah. Bisa dibayangkan sebuah pertarungan dimana tidak ada siapapun yang mau mengalah. Hingga Zaki membelokkan arah serangan Arji dan memukul tangan yang memegang pedang dan wajahnya, membuat Arji sedikit pusing dan melepas pedangnya. Lalu Zaki menendangnya hingga tubuhnya menabrak pohon besar di belakangnya.
Mentari hampir tenggelam di ufuk barat, suasana semakin gelap dan suara jangkrik terdengar. Arji tergeletak dan terbatuk batuk setelah menerima pukulan dan tendangan dari Zaki. Tubuh Arji lemas dan kelelahan sedangkan Zaki masih berdiri tegak dengan pedang di tangannya.
Arji : “Uhuk, Hahaa. J-Jika kau ingin me-menghabisiku, lakukanlah sekarang”
Zaki menghela nafas.
Zaki : “Ayolah, aku tidak sejahat itu kepada temanku. Meskipun sepertinya aku memenangkan pertarungan ini.”
Arji : “IYA KAU MENANG, JADI HABISILAH AKU”
Zaki : “Oh oh, tidak seperti itu”
Zaki menyikap pedangnya kembali ke sarungnya lalu mendekati Arji.
Zaki : “Ayo ikut denganku menghancurkan si brengsek Dagasakarsa”
Arji terkejut mendengar ajakan itu dan dengan paniknya bangun dari posisinya yang tergeletak lemas di tanah.
Arji : “APA KAU GILA? Kau tahu kan Dagasakarsa sudah semakin kuat setelah 6 tahun kebelakang ini, tidak mungkin kita bisa mengalahkannya.”
Zaki : “Kau pikir aku selama 6 tahun ini tidak menjadi lebih kuat, Arji ?”
Arji : “Tapi aku tidak menjadi kuat”
Zaki : “Kau juga inginkan balas dendam akan kematian adikmu kan?”
Arji : “I-itu.. aku..”
Zaki diam dan menatap Arji dengan harap. Suasana sunyi dan suara jangkrik yang mengisi, memberikan ketenangan dan waktu bagi Arji untuk berpikir.
Arji : “Tapi tidak mungkin bagiku untuk-”
Zaki : “Tentu jika kita berhasil menghancurkan Dagasakarsa, kedamaian akan kembali kepada kita, bukan?”
Arji seperti dibukakan matanya. Tatapan mata ketakutannya berubah jadi mata kebencian yang haus akan balas dendam.
Arji : “Baiklah, aku ikut”
Zaki : “Bagus, selain itu kamu juga harus mengurangi kebiasaan mabuk-mabuk mu dan mulai malam ini kau boleh tinggal di rumahku”
Arji : “Eh?”
Zaki : “Hidup gelandangan dan tidur menumpang di gubuk seperti ini tidak nyaman bukan?”
Arji : “Waaaahh, asiik! Apa rencana kita untuk menghabisi si brengsek Dagasakarsa ini ?”
Zaki : “Hahaha, nanti kita bicarakan, sekarang kita pulang dulu
Mereka berdua pun berdamai dan berjalan bersama untuk pulang ke rumah Zaki.
-Bersambung-

Komentar
Posting Komentar