Draft Story : Zun & Ukyo

Chapter 1


Tokoh: Zun Fuyuzora & Ukyo (Water Wizard), Taihou, Miyou


(Penyihir dikenal secara umum sebagai manusia licik dan jahat yang menyihir dan mengutuk siapapun. Namun mereka yang bukan penyihir justru lebih banyak mengutuk dibandingkan penyihir manapun. 


Di zaman modern seperti saat ini, tidak ada lagi penyihir. Mungkin saja ada, tapi mereka pasti menyembunyikan dirinya. Karena siapapun akan melempari mereka dengan batu, menjauhinya, membakarnya, dan membunuhnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya terlahir sebagai penyihir.)


Penyihir dikenal sebagai seseorang dengan kemampuan diluar nalar manusia dimana mereka bisa mengendalikan dan memanipulasi elemen-elemen alam. Mereka juga bisa terbang, menyemburkan api dari tongkatnya, menciptakan hujan, menggambar lingkaran sihir, jubah yang bercahaya, menyembuhkan penyakit, dan berbagai macam keajaiban lainnya. Sihir begitu menakjubkan atau begitulah yang digambarkan dalam film tentang sihir. Namun, di zaman modern ini tidak ada lagi yang seperti itu. Pasti ada sesuatu yang membuatnya hilang atau memang dari awal hal itu tidak pernah ada.


Aku menyukai sihir. Anime dan film yang menunjukkan aksi dan pertarungan sihir selalu membuat ku bersemangat. Rapalan sihir, kombinasi elemen, dan berbagai macam pengendalian sihir terlihat sangat keren dan menarik bagiku. Aku selalu berkhayal, andaikan aku bisa memiliki sihir maka aku menginginkan sihir yang dapat mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan. Dengan itu aku bisa menciptakan senyuman dan suka cita di seluruh penjuru dunia.


Aku juga ingin mengembalikan senyuman kakakku yang hilang. Karena kepergian Ibu dan Ayah sangat menyakiti perasaannya hingga saat ini. Aku yang masih di bangku sekolah, ingin sekali mengobati hati Kak Miyou dan membuatnya bahagia kembali. Pasti berat baginya untuk menanggung biaya hidup kami. 

Sangat menyenangkan sekali rasanya mengingat senyuman di wajah Ayah, Ibu dan Kakak. Aku merindukan masa-masa disaat Ibu dan Ayah masih ada, ketika itu Kak Miyou begitu bahagia. Namun perasaan khawatir ketika aku melihat gelapnya awan hari ini sama seperti aku melihat Kak Miyou setiap hari.


Ah, aku melamun lagi. Meskipun ini masih jam siang, awan ini begitu gelap seperti malam hari. Aku tidak membawa payung, jadi aku harus segera pulang sebelum hujan menerpaku.

Rintik air dari langit menduplikasi dirinya menjadi hujan deras tanpa aku menyadarinya. Andai aku tidak melamun di jalan, pasti aku sudah sampai rumah. Terpaksa aku meneduh di depan toko yang tidak beroperasi. Tapi karena ini, aku jadi bisa melanjutkan lamunan ku yang tadi. 


Meraba pandangan ke segala arah, aku mencoba mengingat apa yang aku khayalkan tadi, dan aku melihat seorang pria duduk bersila tanpa mengenakan baju di pinggir jalan. Orang yang lewat di sekitarnya seperti tidak mempedulikannya. Aku ingin menghampirinya tapi hujan ini begitu deras, seragam sekolah ku bisa basah dan kotor. Aku tidak ingin Kak Miyou repot membantuku membersihkan seragamku.


Aku memilih untuk tetap berdiri disini, namun sepertinya aku sudah berdiri disini lebih dari 30 menit dan hujan ini masih belum berhenti. Pria itu pun juga tidak terlihat berpindah tempat atau setidaknya bergerak untuk menggaruk punggungnya. Aku jadi khawatir dengannya. Aku berjanji untuk mencuci pakaian ini sendiri dan aku pun berlari menghampiri pria itu.


Hujan ini sangat deras, tubuhku terasa seperti ditusuk oleh ribuan tombak semakin cepat ku melangkah. Sekarang aku berdiri di depannya, namun dia seperti tidak menyadari keberadaanku. Mungkinkah dia tidur? atau mati? Aku tidak tahu. 


“Kakak baik baik saja?” tanya ku

Tidak ada jawaban. Dia begitu misterius, aku jadi takut. Namun aku memberanikan diri untuk menepuk pundaknya, namun dia malah terjatuh.

“EH! DIA MATI!?” 

Dari penampilannya, dia terlihat seperti seorang pengangguran yang diusir dari rumahnya. Rambut panjangnya hampir menutupi matanya ditambah kabut hujan yang membuatku tidak bisa melihat dengan jelas. Aku merasa kasihan dan mendoakan jiwa agar tenang di-

“zzzzzz…” terdengar suara dengkuran darinya

“Eh? Hanya tertidur!?”

Dia kemudian terbangun dan bersusah payah untuk menopang tubuhnya untuk bisa duduk. Diam tanpa berkata, membuatku takut apabila aku malah mengganggunya. Aku panik jika ada sesuatu yang terjadi. Lebih baik aku segera minta maaf.

“M-m-m-maaf. Maaf telah mengganggu-”

“Ah, sepertinya aku ketiduran” sambil mengucek matanya.

“Eh?” 

“Terima kasih telah membangunkanku, tuan putri!” ucap pria itu dengan memejamkan matanya dan ia memberiku senyuman dengan tulus. 

Untuk seorang pengangguran, wajahnya cukup bersih dan berbinar. Cahaya mentari pun menerpa wajahnya yang membuatnya terlihat begitu menyilaukan. Namun dia terlihat begitu lembut seperti birunya air di lautan.

“I-I-Iyaa, sama-sama. A-Aku hanya khawatir karena kakak kehujanan jadi-” ucapanku terpotong ketika cahaya matahari mencolok mataku. Aku terkejut setelah melihat sekitarku dan menyadari kalau hujannya telah berhenti. 

“Loh? sejak kapan hujannya berhenti!”

Tanpa suara dan ucapan, pria itu sudah berjalan pergi dan semakin jauh dari pandanganku. Hal ini membuatku bertanya, apakah hujan tadi berhenti ketika dia tersenyum kepadaku? Hmmm, sepertinya hal itu cuma kebetulan saja. Sudahlah, lebih baik aku langsung pulang sebelum hujan datang lagi.

“Tunggu sebentar!” ucapku

“Aku lupa beli saus tomat! Aaaa, Kak Miyou pasti akan lebih depresi karena ku” segera ku berlari menuju minimarket terdekat untuk membeli saus tomat. Saus tomat sangat penting untuk makan malam, karena tanpa itu, makan malam nanti akan sangat berat bagi Kak Miyou.


---

Setelah membeli saus tomat, waktu sudah sore dan langit mulai menyapa `sampai jumpa di esok hari` kepada matahari, dan aku hampir telat sampai di rumah. Terasa pelukan dewi kesepian menyambutku ketika aku sampai pintu depan. Karena Kak Miyou biasanya sedang di dalam kamarnya saat ini. Dia menyendiri di sana, aku menyendiri di sini. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di kamarnya, namun ku harap dia baik-baik saja. Aku masuk rumah dan menuju dapur.

“Oh ya, hari ini aku yang masak yaa”

Aku berjalan menuju kamar Kak Miyou di lantai dua. Agak malas juga naik ke atas hanya untuk menanyakan menu makan malam nanti. Hanya saja rasa peduli ku akan kakakku mengalahkan kemalasanku.

“Kak Miyou, mau makan apa malam ini? Aku sudah beli saus tomatnya loh!” tanyaku dari depan pintu kamarnya

Mendengar tidak ada jawaban, aku mencoba menggedor pintunya namun pintunya tidak dikunci. Perlahan aku mencoba masuk kamarnya.

Ruangan ini begitu gelap, tidak terlihat dengan jelas, tapi aku lihat Kak Miyou sedang berdiri membelakangi dinding. Aku mencari saklar untuk menyalakan lampu kamar ini.

“Kak Miyouu~, mau aku masakin apa malam- i- ni”

Lampu menyala dengan terang, aku tercengang ketika melihat Kak Miyou dilahap oleh sebuah monster hitam berukuran besar. 

“KAK MIYOU!!?” 

Aku kaget dan panik, tapi tunggu! Ketika ku lihat baik baik. Justru monster itu muncul dari Kak Miyou.

“K-Kak Miyou! Apa yang terjadi!?”

Aku terlalu kaget dan takut hingga tubuhku gemetar tak terkendali. Membuatku terdiam kaku dan lemas sehingga aku terduduk jatuh. Melihat tubuh Kak Miyou semakin lama menghilang menjadi bagian dari monster hitam itu dan membesar.

Ada apa ini? Tidak ada yang aneh sejak kapanpun. Kemarin malam kita masih menikmati makan malam bersama. Tadi pagi pun ketika Kak Miyou meminta ku membeli saus tomat juga tidak ada yang aneh. Mengkilas balik semua kemungkinan aneh yang mungkin terjadi, aku mengira aku akan mati. Karena katanya orang yang segera menemui ajal, mereka akan mengkilas balik kehidupannya.

“Ta-Taihou, p-pergi lah” bisik Kak Miyou dengan lemah

Tanpa ku bisa berbuat apa-apa, Kak Miyou yang ada disana berubah menjadi monster hitam yang utuh. Bentuknya tidak bisa ku gambarkan dengan baik, namun bila ku jelaskan, monster itu memiliki dua mata yang melihat ke arah yang berlawanan dan mulut tanpa taring yang selebar tubuhnya. Sebelum ku menyadari semua, monster itu mengambil langkahnya untuk mendekatiku.

“M-MENJAUH KAU! KEMBALIKAN KAK MIYOU, DASAR MONSTER JAHAT!!” gertakku sambil perlahan mundur. Namun sialnya aku terjatuh terduduk.

Wajah ku penuh dengan ketakutan ketika monster itu semakin mendekatiku. Bodohnya diriku, aku tidak menyadari pintu kamar itu satu satu nya jalan keluar. Aku bisa pergi dari sini dan menyelamatkan diriku. Menyadarinya itu, aku berusaha menuju ke pintu dengan bersusah payah sebelum monster hitam itu meraih kaki ku dengan tangannya. Lalu monster itu berusaha menarikku.

Aku berusaha semaksimal meraih kaki meja belajar miliki Kak Miyou untuk ku berpegangan. Namun, dewa kematian seperti menyelimuti diriku. Membuat tubuhku menggigil dan kedinginan. Dengan ketakutan aku memejamkan mataku sementara berpegangan dengan kuat. Aku berharap ada sesuatu yang bisa menyelamatkanku dari kematian ini. 

Namun entah mengapa, di detik akhir kehidupan ku ini aku malah mengingat pria pengangguran siang tadi. Jika ku sadari, satu hal aneh yang terjadi akhir-akhir ini hanyalah ketika aku bertemu pria itu. Kenapa hujan deras itu berhenti ketika dia bangun dari tidurnya? Aku ingin tahu jawabannya, tapi sepertinya ini adalah akhir hidupku. Aku penasaran, jika aku meninggalkan pertanyaan tak terjawab ini, apakah aku akan menjadi hantu gentayangan? Ah, aku tidak peduli.

Kaki meja belajar patah, monster itu pun berhasil menarik ku. Aku berteriak ketakutan semakin ku mendekati mulut raksasanya.

“Siapapun tolong!!” rintihku sambil mengulurkan tanganku seiring ku ditelan ke dalam kegelapan monster hitam ini. Meskipun ku tahu tidak mungkin ada yang mendengarnya. Hingga tanpa kusadari sesuatu jatuh dari langit dan melubangi atap kamar ini. Diikuti rintik hujan deras hujan yang masuk melalui celah atap tersebut. Aku tidak bisa melihat ada apa disana karena monster hitam ini perlahan menelanku hingga uluran tanganku adalah satu satunya yang ada di luar mulut monster ini.

Aku sudah pasrah dan tidak peduli dengan apa yang terjatuh dari langit itu. Tubuhku tenggelam dalam kegelapan, terasa sesak dan begitu gelap. Aku tidak bisa melihat apapun, tapi aku merasakan seseorang meraih uluran tanganku. Tidak lama setelah itu, sesuatu menarikku keluar dari kegelapan ini. 

Ketika kita berpindah tempat dari tempat gelap ke terang secara cepat, mata kita akan tersilaukan oleh cahaya yang baru datang. Aku tidak bisa melihat dengan jelas setelah keluar dari kegelapan itu jadi aku memejamkan mataku. 

Tanpa melihat, aku merasa seperti ada seseorang yang berusaha menarik keluar tubuhku dari monster hitam ini. Kemudian aku melihat ada cahaya biru lewat di balik kelopak mataku. Kemudian aku membuka kedua mataku dan terkejut mengatahui bahwa aku terbangun dalam pelukan seseorang yang terasa tidak asing bagiku.

“Ka-Kakak? yang waktu itu!” 

“Sudah bangun, tuan putri?” ucap pria pengangguran yang tadi ku temui. Dia begitu bercahaya dengan jubah biru bergaris putih. Aku tidak peduli siapa dia, tapi aku merasa kalau dia adalah orang baik karena menolongku. Rasa takut ku yang ku alami tadi meluap menjadi tangisan.

“Kakak Pengangguran!! Tolong selamatkan Kak Miyou, monster hitam ini melahap tubuh Kak Miyou! Ku mohon selamatkan dia!” 

“Eh !@&!$^?- Pengangguran!?”

“Tolong kak! Selamatkan Kak Miyou!! Kalau tidak Kak Miyou akan-”

“Tak perlu khawatir, tujuan ku kesini memanglah untuk itu”

Dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya, dia memposisikan ku aman dari monster hitam yang ditahan oleh sesuatu itu. E-eh, apa itu? Seperti sebuah cairan lengket berwarna biru yang menempelkan monster itu ke dinding.

“Zun, cepat lakukan pembersihannya. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.” ucap cairan lengket biru itu.

“Terima kasih sudah menunggu!”

“Apa!? Dia berbicara!”

Pria pengangguran itu hanya tersenyum padaku. Kemudian dia berdiri dengan sigap menghadapi monster hitam itu. Tunggu! Dengan jubah bercahaya seperti itu dan lingkaran sihir di udara yang sedang dibuatnya, betapa tidak sopannya aku memanggil dia seorang pengangguran. Justru dia adalah sesuatu yang aku idolakan selama ini. Dia adalah mereka yang dikenal sebagai Penyihir.


“Dengan kesucian air dan sumber kehidupan, bersihkan dan libaskanlah kekotoran di hati semua jenis kehidupan. Sihir Air: Pembersih Kegelapan”


Setelah dia merapal mantra itu, keluar cahaya dari lingkaran sihir itu, diikuti oleh air yang menyerang monster hitam itu. Perlahan air itu menghilangkan bagian dari tubuh monster dari tubuh Kak Miyou seperti membersihkan noda pada piring kotor. Hingga akhirnya aku melihat tubuh Kak Miyou yang utuh dan perlahan bersih dari hitamnya bagian monster itu.


“Kak Miyou!!” aku berlari untuk meraih tubuh Kak Miyou yang terjatuh lemah. 

“Ah, Taihou. Kau menyelamatkan ku” tubuhnya masih baik baik saja meskipun monster hitam tadi sepertinya menghanguskan pakaiannya. Mau bagaimanapun, aku sangat bersyukur Kak Miyou masih hidup.

“Um, bukan aku. Aku juga hampir tidak terselamatkan. Tapi ada seorang penyihir baik menyelamatkan kita. Dia disana-”

Pengangguran- bukan, maksudku Penyihir yang tadi menyelamatkan ku tergeletak dengan lemah di lantai. Tanpa jubah cahaya itu, dia seperti pria pengangguran yang aku temui ketika hujan deras tadi.

“Ketika dia selesai menggunakan sihir penyucian, dia memang selalu pingsan seperti itu” ucap buntalan air yang seperti balon berwarna biru itu.

“Eh!?” aku dan Kak Miyou terkejut dan berpelukan

“Air ini bisa bicara!?” 

Buntalan air itu melompat seperti kodok dan bersembunyi. Buntalan air itu seperti ketakutan dengan suara kaget kami yang menyeringai. 

“Uhh, apa kamu teman pengangguran itu?”

“Pengangguran apa? Dia itu penyihir tingkat atas! Dia representasi dari segala kehidupan yang berasal dari air”

“A-Ahh, maaf ketidaksopanan ku”

“Daripada itu kalian harus mengenalku, Ukyo, slime air dengan kekuatan hebatnya dapat membuat-”

“Taihou, kita harus tutup atap itu dulu. Karena hujan, air nya jadi masuk kamarku”

“Oh iya, Kak Miyou pakai baju dulu”

“Oi kalian tidak mendengarkanku” teriak Buntalan Air


---


Hujan semakin deras dan penyihir yang telah menyelamatkan ku ini masih belum terbangun juga. Setelah kejadian tadi, Kak Miyou dan aku memindahkan dia ke tempat tidur ku. Aku duduk disamping tempat tidur,mencoba menyentuhnya karena aku masih belum bisa percaya kalau ada penyihir di depan mataku. Tubuhnya terasa dingin sekali seperti hujan sedang membasahiku namun memberikan kehangatan dan ketenangan.

Kak Miyou merasa bertanggung jawab akan kejadian ini, jadi dia sedang menyiapkan malam. Tidak hanya untuk berdua tapi juga untuk penyihir ini. Namun setelah menunggunya, sudah hampir 1 jam dia tidak kunjung bangun juga. Seperti penyakit yang menular, melihatnya dia tertidur lelap aku jadi merasa aku ingin tertidur juga. Suara hujan seperti menyanyikan lagu tidur untukku. Hingga tanpa ku sadari aku tertidur di samping penyihir itu.

“Bwaaaaaaahh”

“Aaaaaa!” penyihir ini bangun dan mengejutkanku hingga terjatuh dari kursi.

“Wahh, aku ketiduran lagi” ucap penyihir itu dan hujan deras yang ku lihat di jendela pun perlahan menghilang.

Melihat hal itu, aku merasa ini bukan kebetulan. Hujan turun ketika orang ini tertidur dan menghilang ketika dia terbangun.

“Hoooo, kakak benar benar seorang penyihir ya!”

“Ah, selamat pagi, tuan putri! Sepertinya kamu membangunkanku lagi ya. Hahaha” 

“Eh? Tapi ini masih malam!”

“Oh ya! Ukyo? Mana Ukyo?”

“Ukyo? Oh, slime biru itu, sepertinya dia ada di dapur dengan Kak Miyou”

“Heee, apa yang dia lakukan jam segini” penyihir itu pergi berlari menuju dapur seperti anak-anak yang mengejar mainannya.

“Oi tunggu! Setidaknya pakai sesuatu!” aku mengejarnya ke bawah.

Sesampainya ku di dapur aku melihat slime biru itu menempel dan menyelimuti dada Kak Miyou.

“Tak kusangka, Ukyo. Kau sudah dewasa ya” ucap penyihir atau ku bilang pengangguran mesum ini.

“HEI!! LEPASKAN KAK MIYOU, BUNTALAN AIR!!” aku memegang buntalan air itu berusaha melepaskannya dari Kak Miyou, tapi aku tidak bisa memegangnya karena dia sepenuhnya air.

“Aku Ukyo, bukan buntalan air (*=w= )”

“Haha, tidak apa apa, dia hanya menggelitik ku”

“Ukyo sangat suka sesuatu yang lembut” ucap peny- pengangguran mesum itu.

“Hmmm! Kak Miyou seperti menikmatinya, tidak apa lah, aku senang bisa melihat dia sebegitu senangnya”

“Ah, karena tuan penyihir sudah bangun, sepertinya kita bisa mulai makan malam nya.”

Buntalan Air itu membantu menyiapkan dengan memanipulasi tubuhnya dan mengeluarkan banyak lengan untuk menyiapkan makanan di meja makan kami.

“Ukyo-kun sangat membantu ya” ucap Kak Miyou.

“Ehehehe”

“Hei pakai ini, tidak enak tau melihat laki-laki telanjang dada di rumah kami” ucapku sambil memberikan Zun sebuah jaket biru gelap yang Kak Miyou miliki.

“Terima kasih~”

“Baik, ayo duduk semua, makan malam sudah siap” dan kami semua pun mengambil tempat duduk kami dan siap untuk makan malam. 

“Selamat Makan!”

“Oh iya, aku mau tanya, kalian sebenarnya itu apa?” tanyaku sambil menyantap spageti saus tomat.

“Penyihir” jawab Zun

“Oh, penyihir”

“Ya, penyihir”

“Beneran penyihir?”

“Ya, beneran penyihir”

“Waaaaaaaah” +.+ mataku berbinar penuh takjub melihat penganggu- ah maksudku penyihir ini.

“Ajari aku sihir terbang!?” +.+ tanyaku sambil memohon tidak mempedulikan saus tomat di pipiku.

“Eh, aku tidak bisa mengajari itu”

“Sihir api!?” +.+

“Uhh, mau bagaimanapun kamu tau aku berelemen air, kan”

“Ajari aku apapun tentang sihir, tuan penyihir!” ucapku dengan antusias

“Apakah sihir memang benar benar ada?” tanya Kak Miyou dengan polos

“Ya, memang ada kok” jawab Ukyo, “memasak makanan pun juga bisa dianggap sihir”

“Heee, berarti aku juga penyihir” kata Kak Miyou

“Yupp” >w<


“Tuan penyihir, siapa namamu?”

“Oh iya, aku belum menyebutkan namaku” ucap penyihir itu, “perkenalkan aku Zun Fuyuzora dari empat penyihir elemen dasar. Menguasai dan Mengendalikan segala elemen yang bersumber dari air”

“Dan aku Ukyo, slime air, manifestasi dan partner elemen yang membantu penyihir elemenku”

“Waaa keren!! Aku panggilnya bang Jun ya” teriakku dengan mata berbinar binar.

“Bukan Jun, tapi Zun!” ucap Bang Jun sambil menghela nafas, “Oi, penulisannya jangan dipanggil gitu juga!!”

“Tuan penyihir sangat menarik ya” ucap Kak Miyou dengan tersenyum senang. Senyuman tulus yang ku harap bisa ada lagi di wajah cantiknya.

“Kak Miyou tersenyum!! Aku senang melihatnya!” ucapku dengan gembira

Namun sepertinya aku tidak seharusnya mengatakan itu, perlahan wajah Kak Miyou berubah menjadi muram setelah ku mengatakan itu.

“T-Taihou~” bisik Kak Miyou seperti menahan tangis

“Kak Miyou?”

“Eh, ada apa?” Ucap Zun

“Maaf. Ketika aku menyadari aku tersenyum dan bahagia, aku selalu teringat dan merasa kehilangan Ayah dan Ibu. Aku merasa tidak pantas untuk bahagia setelah kepergian mereka berdua”

“Kak Miyouu~” aku merasa sedih mengetahui itu. Dia merasa bersalah ketika dia bahagia tanpa adanya Ayah dan Ibu. Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk menjawab masalah ini. Aku juga merasa kehilangan mereka, namun aku juga tidak ingin terpuruk terus seperti Kak Miyou. Karena mau bagaimanapun, kehidupan kita akan terus berlanjut kan.

“Eh, Bang Jun! Apa yang kamu lakukan!?” aku melihat dia melakukan sesuatu kepada Kak Miyou. Aku menghampirinya, dia menyentuh dahi Kak Miyou dengan jarinya dan cahaya muncul dari tangannya. Aku melihat Kak Miyou seperti kesakitan.

“Hei! Hentikan! Kau menyakitinya!” sambil mencoba melepaskan tangannya dari Kak Miyou, tapi orang ini seperti patung yang tidak bisa digerakkan. Kemudian tanpa kusadari Ukyo membungkus tubuh ke dalam tubuhnya. 

“Eh! Apa yang kamu lakukan, Buntalan Air!?”

Lalu dia menempelkan tubuhku dengan Zun. Setelah itu, aku merasa seperti pingsan dan berpindah tempat ke tempat lain dalam sekejap. Perasaan ini, seperti tempat yang tidak bisa ditemukan di bumi. 

Aku tidak mengetahui dimana aku sekarang, disini gelap sekali. Perasaan ini seperti aku sedang dalam mimpi. Tunggu, ini semua adalah mimpi? Zun dan Ukyo, mereka hanya mimpi? Kak Miyou? Aku harus segera bangun.

Aku membuka mataku dan terbangun dari tidur ku. Tunggu, meskipun aku sudah bangun, ini masih sangat gelap. Hingga kemudian secercah cahaya datang menghampiriku. Terlalu gelap, aku tidak bisa lihat siapa yang datang.

“Hei, kau sudah bangun, tuan putri?” Zun datang dengan membawa obor

“Ah, Bang Jun rupanya”

“Bukan Jun, tapi Zun!”

“Dimana ini?”

“Kita ada di dalam dunia yang dimiliki Miyou”

“Eh? Apa maksudmu dunia?”

“Ikuti aku”

Cahaya obor ini menuntunku dan Zun memegang tanganku mengarahkan kemana aku harus melangkah. Segelap apapun tempat, setidaknya ada tempat dimana cahaya alami bisa masuk. Tapi tempat yang ku perkirakan seperti goa ini tidak membiarkan cahaya datang. Hingga beberapa jauh melangkah, akhirnya ada cahaya redup yang terlihat seperti pintu keluar.

Aku berjalan ke sana dengan Zun yang terus menuntunku. Cahaya redup itu semakin dekat dan kami sampai di mulut goa yang berada di pinggi jurang ini untuk melihat langit gelap membentuk pusaran awan berdebu yang mencekam. Banyak monster mengerikan berada dibawah lembah ini.

“Tunggu! Apa ini!? Kenapa begitu mengerikan?”

“Ini adalah ilusi dunia yang diciptakan oleh Miyou dalam pikirannya”

“Pikirannya? Kenapa sangat gelap? Apa yang menyebabkannya sampai seperti ini?”

“Aku belum mengetahuinya, maka dari itu aku sedang mencari sumber masalahnya”

Melihat kebaikan dan keikhlasan Zun untuk menyelamatkan Kak Miyou dari gelapnya perasaan dia, membuat ku menghormati dan ingin membantu orang ini.

“Apa yang bisa aku bantu?”

“Hm, mari kita lihat. Kita hanya harus menemukan penyebab pikirannya menciptakan kegelapan sebanyak ini di pikiran Miyou”

“Apakah trauma bisa jadi penyebabnya?”

“Hmm, ya, bisa jadi. Kira-kira, trauma apa yang dimiliki Miyou?”

“Sudah kuduga” ucapku, “Aku menemukan bahwa Kak Miyou menjadi seperti ini semenjak meninggalnya Ayah dan Ibu dalam kecelakaan mobil ketika mereka sedang bekerja di luar negeri. Kejadian itu menyayat perasaan kami dengan dalam, karena kami saling berbagi kenangan dengan indah. Namun, aku bisa berdamai dan menerima kepergian mereka. Hanya saja, sepertinya tidak dengan Kak Miyou”

“Oh begitu, kalau begitu kita sudah menemukan masalahnya”

“Eh? Apa itu, Zun?”

“Lihat pusaran awan itu” tunjuk Zun mengarah ke pusaran besar di langit itu, “Yang kamu lihat debu itu adalah monster-monster yang ada di lembah ini”

“Eh!! Banyak sekali!! Kita harus menghentikannya kan?”

“Ayo” Zun menarikku untuk menaiki ombak yang diciptakannya entah darimana.

“Hey, bagaimana kamu bisa mengendalikan air tanpa ada air disini”

“Ini bukan dunia nyata, jadi aku bisa menciptakan sesuatu jadi kenyataan sesuai dengan kemampuan ku”

“Hey tunggu! Bukannya kita akan menuju pusaran awan itu?”

“Tidak. Kita harus mencari sumbernya”

“Mencari sumbernya?”

“Iyaa, mencari Miyou”

Kak Miyou ada disini. Tentu saja, ini kan pikirannya. Aku penasaran, bagaimana kondisi Kak Miyou dalam pikirannya sendiri.

“Zun, kenapa disini tidak panas atau dingin. Tapi terasa seperti menyedot energi kehidupanku”

“Itu karena terlalu banyak energi negatif disini” jelas Zun kemudian menemukan Kak Miyou, “Itu dia”

Ombak air pun melaju menuju Kak Miyou yang sedang duduk memeluk kakinya. Kami pun sampai dan berdiri tepat di depannya.

“Kak Miyou!” aku mendekatinya

“Taihou” sahutnya dengan lemah

“Kak, jangan merasa bersalah akan kepergian Ibu dan Ayah. Semua yang terjadi biarlah terjadi. Aku tidak ingin Ka-”

“Taihou, andai aku tidak memilih kuliah dan membiarkan Ibu dan Ayah bekerja begitu keras untuk memenuhi biaya ku. Mereka tidak perlu pergi ke luar negeri dan mereka pasti masih ada bersama kita sekarang. Aku tidak berhak merasa bahagia tanpa mereka, apalagi mereka harus tiada karena aku”

“Tapi kak, tolong pikirkan lagi, mereka melakukan itu semua untuk kakak dan aku dengan senang hati. Mereka tidak menyesal bekerja keras untuk membahagiakan kita. Ingatlah momen kebahagiaan yang pernah kita bagikan bersama.”

Mendengar kata-kataku, Kak Miyou melihatku dengan terkejut. Ia merasakan kilas balik sewaktu kami sekeluarga masih bersama. Pikirannya terlihat dengan nyata di depan mataku, tidak disekitarku. Bahkan Zun bisa melihatnya. Liburan musim panas ke pantai, mendaki gunung, taman hiburan, bioskop, dan canda tawa yang Kak Miyou alami dan aku juga alami ketika Ayah dan Ibu masih ada. Melihat itu, aku pun jadi merasa nostalgia dan Kak Miyou di depan mataku ini juga terlihat ada senyuman di wajahnya.

“Kak Miyou, kenangan ini terasa indah karena kita pernah mengalaminya. Jangan murung dan sedih karena itu berakhir, tapi berbahagia lah karena itu semua sudah terjadi” ucapku dengan yakin hingga Zun pun terkaget mendengarnya.

Aku mendekati Kak Miyou dan mengulurkan tanganku, “Ayo, kita mulai lagi semuanya dengan penuh suka cita, bukan karena kita melupakan Ibu dan Ayah, tapi karena kita berterima kasih atas kenangan yang telah kita bagikan bersama”

Kak Miyou masih tercengang melihatku dan kemudian dia mengulurkan tangannya untuk meraih tanganku. Namun tiba tiba Zun menarikku.

“Hei! Apa yang kau lakukan?”

Ketika ku berpaling sebentar, Kak Miyou yang tadi tertarik dalam kegelapan. Dari belakangnya, muncul sesuatu yang menggambarkan kehancuran dan ketakutan.

“A-A-Apa Itu!? Itu seperti Kak Miyou kemarin”

“Itu adalah monster sejatinya. Dia adalah Guilty Tripper”

Monster itu seperti monster hitam yang aku lihat melahap Kak Miyou. Hanya saja ini lebih besar. Matanya empat dan mulut yang lebih besar.

“Gwaaaaaaaachi, mengganggu sekali!! Aku sudah bersusah payah menguasai perasaan orang ini!! Kenapa kalian menggangguku, Elementia!!”

Monster ini komat-kamit perkataan yang tidak ku mengerti. Lalu dia terlihat seperti mencari sesuatu diantara aku dan Zun.

“Kamu ya, wanita!? Dasar Elementia!!” teriak dia sambil menyerang dengan menembakkan bagian tubuhnya ke arahku seperti serangan tentakel yang menusuk. 

Aku tidak bisa bereaksi tepat waktu, aku tidak bisa menghindar, serangan itu pasti mengenaiku.

“Oi oi oi, jika kau mencari Elementia, itu aku!” ucap Zun sambil menahan serangan itu dengan tentakel air yang ukurannya sama, “Tidak heran kenapa namamu `merasa bersalah` karena kamu selalu `salah` dalam urusan sederhana seperti ini, dasar monster” serangan Guilty Tripper pun terpental dan membalik kepadanya.

“Ohh, aku tau kamu, Zun!! Kamu yang mensucikan medium ku!”

“Yoo, sekarang aku juga akan mensucikan orang ini dari monster jelek seperti mu”

“Sialan!! Meskipun ini hanya dunia Mental-Image bukan berarti kau bisa seenaknya!! Jika aku bisa membunuhmu disini, kau juga akan melepas jiwa mu dari tubuh mu di dunia nyata”

“Eh! Tunggu! Jika aku mati disini maka aku mati di dunia nyata?” ucapku dengan kaget dan takut

“Tidak akan! Taihou, tetap di dekatku, aku akan melindungimu”

“HANCURLAH KALIAN!!”

Guilty Tripper menyerang dengan banyak tentakel raksasa dan menyerang kami secara bertubi-tubi. Dia pikir kalau serangannya berhasil menghancurkan kami. Tapi pelindung ombak yang diciptakan Zun seperti tidak tertembus. Karena dorongan ombaknya, serangan tentakel itu hanya terbawa arus dan datang kembali ke arah datangnya sendiri.

“Hehehe, kau seharusnya tidak meremehkan Elementia sepertiku!!

“Zun, kita harus menyerang balik. Kalau tidak, dia akan menyerang dengan itu lagi dan aku ragu kamu bisa bertahan selama itu.

“Tenang, aku sudah memikirkannya”


“Mewakili Air di alam semesta, bersatulah dengan jiwaku dan berikan aku kekuatan dan kebijaksanaan untuk membasmi kekotoran di dunia ini. Elementialist!


Zun merubah dirinya menjadi seperti yang aku lihat ketika dia menyelamatkanku waktu itu. Jubah bercahaya berwarna biru dengan garis putih.



== Berlanjut ==


Komentar